5 Syarat Kata dimasukkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI

Bertema.com – 5 Syarat Kata Dimasukkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI

Pernahkan anda kesulitan dalam menerjemahkan atapun mengartikan sebuah kata? Saya yakin, setiap orang pasti pernah mengalami kesulitan dalam menerjemahkan sebuah kata.

Lalu apa yang kita lakukan? Pasti kita segera mengambil kamus untuk mencari pengertian dari kata-kata yang sulit tersebut.

Setelah kita menemukan pengertian sebuah kata tersebut dari kamus pengetahuan dan pemahaman kita menjadi bertembah.

Setiap kali kita kesulitan menerjemahkan sebuah kata, sudah pasti rujukannya adalah kamus.

Merujuk dari id.wikipedia.org. kamus merupakan buku rujukan yang menerangkan makna kata-kata. Kamus berfungsi untuk membantu seseorang mengenal kata-kata baru.

Selain menerangkan maksud kata, kamus juga mungkin mempunyai pedoman sebutan, asal usul (etimologi) suatu kata, juga contoh penggunaan bagi kata.

Namun pernahkah kita berfikir bagaimakah sebuah kata dapat dimasukkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI?

Karena di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI kita sering menjumpai adanya kata-kata yang beasal dari bahasa asing (kata serapan). Ada juga kata-kata yang berasal dari bahasa daerah.

Nah, pada kesempatan ini admin akan persyaratan yang harus dipenuhi agar sebuah kata dapat dimasukkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

5 Syarat Kata Dimasukkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI

Agar sebuah kata menjadi bagian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sebuah kata harus sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Kaidah bahasa Indonesia yang dimaksud adalah memiliki kaidah secara secara sematis, leksikal, fonetis, pragmatis, dan penggunaan (usage).

Adapun kaidah kebahasaan tersebut diwakili oleh 5 syarat berikut ini.

1 Unik

Kata yang diusulkan menjadi bagian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI harus unik. Artinya kata-kata baik yang berasal dari bahasa daerah, maupun bahasa asing memiliki makna yang belum ada dalam bahasa Indonesia.

Karena kata-kata tersebut akan berfungsi untuk menutup rumpang leksikal (lexical gap), kekosongan makna dalam bahasa Indonesia.

2. Eufonik (sedap didengar)

Kata yang disusulkan menjadi bagian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI adalah kata yang sedap didengar . Tidak mengandung bunyi yang tidak lazim dalam bahasa Indonesia atau dengan kata lain sesuai dengan kaidah fonologi bahasa Indonesia.

Persyaratan ini bertujuan agar kata tersebut mudah dilafalkan oleh oleh penutur bahasa Indonesia dengan beragam latar bahasa ibu.

Sebagai contoh akhiran /g/ dalam bahasa Betawi/Sunda/Jawa menjadi /k/ dalam bahasa Indonesia. Atau fonem /eu/ dalam bahasa Sunda menjadi /e/ dalam bahasa Indonesia.

 ojeg > ojek

 keukeuh > kekeh

3. Seturut kaidah bahasa Indonesia 

Kata yang disusulkan menjadi bagian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI adalah seturut kaidah bahasa Indonesia . 5 Syarat Kata dimasukkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI.

Maksudnya kata tersebut dapat dibentuk dan membentuk kata lain dengan kaidah pembentukan kata bahasa Indonesia, misalnya pengimbuhan dan pemajemukan.

 kundur > (ter)kunduri

4. Tidak berkonotasi negatif. 

Kata yang disusulkan menjadi bagian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI adalah Tidak berkonotasi negatif.

Kata yang memiliki konotasi negatif tidak dianjurkan masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, karena kemungkinan tidak berterima di kalangan pengguna.

Dengan demikian yang akan dipilih untuk masuk ke dalam KBBI adalah kata yang memiliki konotasi lebih positif.

Contoh: Kata lokalisasi dan pelokalan,  memiliki makna sama namun bentuk terakhir lebih dianjurkan karena memiliki konotasi yang lebih positif.

5. Kerap dipakai. 

Salah satu syarat sebuah kata dapat dimaksukkan ke dalam Besar Bahasa Indonesia KBBI adalah Kerap dipakai. 

Kekerapan pemakaian sebuah kata diukur dengan menggunakan frekuensi (frequence) dan julat (range).

Frekuensi adalah kekerapan kemunculan sebuah kata dalam korpus (bank bahasa), sedangkan julat adalah ketersebaran kemunculan kata tersebut di beberapa wilayah.

Sebuah kata dianggap kerap pakai kalau frekuensi kemunculannya tinggi dan wilayah kemunculannya juga tersebar secara luas.

Contohnya kata bobotoh yang ketersebaran penggunaannya meluas di beberapa kota di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi serta frekuensi kemunculannya tinggi.

Bobotoh berasal dari bahasa sunda yang berarti orang-orang yang mendorong atau member motivasi bagi orang lain.

Baca Juga: Tips Orang Tua Menyiapkan Anak dalam Menghadapi Ujian

Demikianlah informasi 5 Syarat Kata Dimasukkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI yang admin rujuk dari laman http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/. Semoga dapat menambah wawasan bagi kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *