Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia Menggantikan UN

Bertema.com – Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia Menggantikan UN.

Telah kita ketahui bersama bahwa Pemerintah telah resmi mengeluarkan kebijakan tentang penghapusan Ujian Nasional (UN).

Namun sejatinya pemerintah tidak serta merta melakukan penghapusan Ujian Nasional (UN), tetapi menggantinya dengan Asesmen Kompetensi.

Asesmen Kompetensi yang ditujukan k epada para siswa lebih dikenal dengan istilah Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI).

AKSI merupakan bentuk penilaian eksternal yang terstandar dan didesain untuk mengukur literasi, numerasi, dan literasi sains dari siswa yang selaras dengan kompetensi abad 21.

AKSI merupakan survey yang menaungi kegiatan pemantauan mutu pendidikan secara nasional yang bersifat “longitudinal” pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/ MTs, SMA/MA, dan SMK

untuk memperoleh data serta bukti-bukti yang valid tentang pencapaian kompetensi siswa serta faktor-faktor yang berperan dalam pencapaian tersebut.

Data serta bukti tersebut diharapkan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan dan program. untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara khusus dan mutu pendidikan secara umum.

Sistem pendidikan Indonesia dituntut mampu menyiapkan dan membekali anak-anak bangsa dengan kompetensi dasar.

Yaitu kompetensi yang diperlukan untuk mampu mengaktualisasikan diri di kancah persaingan global. Kompetensi yang dihadapi tersebut umum diringkas menjadi 4C : critical thinking, creativity, collaboration, communication.

Kurikulum nasional bergeser mengikuti tuntutan tersebut dengan menekankan proses inquiry dalam pembelajaran.

Mengkondisikan siswa untuk bertanya dan menggali keingintahuan. Oleh karena itu penilaian sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran juga mengemban semangat perubahan yang sama.

Pada dasarnya Standar Asesmen Kompetensi sama tesnya dengan Ujian nasional (UN), tapi Penanganan tindak lanjut dari jegiatan tersebut yang berbeda.

Berikut ini admin kutipkan konferensi pers Mendikbud Nadiem Makarim yang dilakukan secara daring yang dipublikasikan oleh Humas Setkab.

Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia Menggantikan UN

Sistem standar asesmen kompetensi sama tesnya dengan Ujian Nasional (UN), tapi penanganan setelah asesmen itu berbeda-beda tergantung kebutuhan masing-masing daerah.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, menjawab pertanyaan wartawan saat konferensi pers melalui daring, Jumat (3/4).

”Asesmen kompetensi yang akan berubah dari UN itu ada beberapa perbedaan. Yang pertama asesmen kompetensi itu tesnya dilakukan di setiap sekolah di masing-masing jenjang. tapi tidak harus seluruh angkatan siswanya mengambil,” ujar Mendikbud.

Menurut Mendikbud, itu sampling saja dari setiap sekolah, setiap angkatan, dari setiap jenjang SD, SMP, SMA

sehingga tidak perlu semua anak di angkatan itu, di-grade itu, mengambil tesnya. ”Jadi sampling saja dan standarnya sama semuanya akan sama.

Jadi seperti Ujian Nasional (UN), jadi enggak ada perbedaan dari tesnya,” ungkap Mendikbud.

Lebih lanjut, Mendikbud menyampaikan bahwa sisi perbedaannya adalah apa yang terjadi setelah selesai melakukan asesmen kompetensi tersebut.

“Penanganan masing-masing daerah tergantung di level mana dia mendapatkan hasil asesmen kompetensi. tersebut di situlah yang akan ada segmentasi dari berbagai macam daerah, daerah yang butuh lebih banyak bantuan, daerah yang butuh pendekatan yang berbeda,” tambah Mendikbud.

Jadi, menurut Mendikbud, Ia menjunjung tinggi keberagaman dan walaupun asesmennya standar tapi cara penanganan setelah asesmen itu tidak terstandar. karena memang beda-beda semua level daerah, sekolah-sekolah masing-masing juga beda-beda.

Menjawab pertanyaan mengenai literasi, Mendikbud sampaikan ada dua hal yang akan dilakukan untuk meningkatkan literasi. yakni untuk mengubah paradigma dari sisi buku-buku yang diberikan kepada sekolah.

“Yang selama ini buku-buku itu fokusnya adalah kepada paket-paket buku pembelajaran dan kurikulum. sedangkan yang lebih penting lagi adalah untuk mencintai membaca,” ujarnya.

Mengurangi Konten Beban Belajar Siswa

Karena itu, Mendikbud sampaikan konten-konten yang dipilih untuk perpustakaan di sekolah-sekolah dan lain-lain itu harus fokus kepada apa yang menyenangkan untuk murid-murid.

“Ini yang terpenting, perubahan terpenting, bahwa kalau anak itu mencintai membaca dan dia tertarik secara independen/secara mandiri. dia ingin membaca karena konten yang menarik, dari situlah proses literasi akan secara otomatis meningkat,” sambungnya.

Di pelajaran bahasa Indonesia pun, menurut Mendikbud, itu harus ada fokusnya kepada literasi, bukan hanya kepada gramatika dan bagimana kosakata Bahasa Indonesia.

“Tapi bagaimana konten-konten dalam kurikulum Bahasa Indonesia itu menggunakan buku-buku yang menyenangkan. menarik, cerita-cerita yang relevan untuk masing-masing jenjang siswa kita,” ujarnya.

Fokusnya itu, tambah Mendikbud, bukan untuk mempelajari Bahasa Indonesia tapi untuk mempelajari literasi,

yaitu bisa cinta membaca dan mengerti bacaan, persuasif komunikasi melalui pembicaraan atau verbal, dan juga kemampuan persuasif komunikasi dari menulis.

“Itu adalah perubahan yang menurut kami akan mendorong angka literasi kita naik. Dan tentunya dalam berbagai channel. bukan hanya melalui buku tapi bahkan kita bisa melakukannya melalui channel-channel online maupun TV,” imbuhnya.

Menjawab pertanyaan mengenai rencana mengurangi mata pelajaran. Mendikbud sudah sepakat akan menyederhanakan kurikulum sehingga lebih mudah dimengerti buat guru dan juga buat siswa-siswa kita.

“Jadi yang sudah jelas adalah beban konten itu harus turun. Jadi beban jumlah konten yang harus dipelajari itu harus turun

sehingga di masing-masing konten bisa lebih mendalami kompetensi-kompetensi yang terpenting,” katanya.

Baca Juga: Contoh Instrumen Lembar Penilaian Diri dan Penilaian Antarteman

Apakah itu artinya nanti mata pelajarannya dikecilkan atau konten per mata pelajaran dikecilkan, menurut Mendikbud,

itu masih dalam tahap sedang dikaji dengan tim internal serta mitra-mitra, dan mendapatkan input dari berbagai macam organisasi mengenai reformasi kurikulum.

“Jadinya saya belum bisa jawab apakah mata pelajaran yang akan dikurangi atau konten di dalam masing-masing dikurangi,” tambahnya.

Yang sudah jelas, menurut Mendikbud, beban siswa dengan jumlah konten dan bahan yang banyak sekali sehingga mereka tidak bisa mendalami kompetensi apapun.

“Itu pasti akan kita tangani dan akan kita simplify/ sederhanakan dan kita buat jauh lebih fleksibel sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak,” pungkasnya.

Sumber: https://setkab.go.id/