Panduan Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional USBN 2018

Bertema.com— Panduan Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional USBN 2018

Penilaian hasil belajar peserta didik dalam sistem pendidikan di Indonesia dilakukan oleh tiga pihak, yaitu pemerintah, sekolah dan pendidik.

Kegiatan penilaian merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan.

Tujuannya untuk mendiagnosa kekuatan dan kelemahan peserta didik, memonitor perkembangan belajar peserta didik, menilai ketercapaian kurikulum.

Selain itu juga digunakan untuk memberi nilai peserta didik dan menentukan efektivitas pembelajaran pada aspek pengetahuan maupun aspek keterampilan.

Download Panduan Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional USBN.

Dalam rangka mencapai tujuan di atas, dapat dilakukan dengan berbagai instrumen, teknik dan bentuk penilaian.

Bentuk penilaiannya dapat berupa tes tertulis, lisan, praktik maupun projek.

Namun dalam rangka penilaian hasil belajar peserta didik jenis tes sumatif seperti ujian, maka tes tertulis yang sering digunakan.

Mulai tahun pelajaran 2016/2017, Kemdikbud telah memberlakukan Ujian Sekolah Berstandar Nasional untuk mata pelajaran Pendidikan Agama, IPS dan PKn.

Yang mana kisi-kisi soal seluruhnya disusun oleh pusat.

Sedangkan untuk penyusunan dan perakitan soalnya, pusat menyiapkan sebanyak 20 – 25 % sebagai soal anchor.

Sisanya sebanyak 75-80% disusun oleh daerah.

Pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan kabupaten/kota menugaskan kepada Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk menyiapkan soalnya.

Sebetulnya langkah yang harus dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota adalah mengkoordinir tersusunnya soal USBN.

Namun terkadang Dinas terkait tidak meresponnya dengan baik.

Sehingga para guru melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) proaktif menyiapkan soal USBN.

Yang notabene menjadi wewenang dan tanggungjawab Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

Format baru Ujian Sekolah Berstandar Nasional USBN

Lepas dari siapa yang bertanggungjawab menyiapkan soal USBN, yang jelas pemerintah berkeinginan memberikan kesempatan kepada para guru untuk melaksanakan evaluasi.

Dengan pelaksanaan USBN diharapkan para guru mampu menyusun soal yang bermutu karena hasil dari penilaian tersebut akan menentukan kelulusan.

Apalagi mulai tahun pelajaran 2017/2018 Kemdikbud mengumumkan format USBN terbaru untuk tahun 2018 bagi jenjang SD, SMP, SMA dan SMK.

USBN jenjang SD di tahun 2018 mengujikan tiga mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika.

Sebanyak 90 persen soal adalah pilihan ganda, dan 10 persennya lagi berbentuk esai.

Sedangkan untuk USBN jenjang SMP, SMA, SMK akan mengujikan seluruh mata pelajaran.

Sehingga mulai tahun 2018 tidak ada lagi pelaksanaan ujian sekolah.

Komposisi soal ujian ama yaitu 90 persen pilihan ganda dan 10 persen esai.

Format USBN ini berlaku juga pada Pendidikan Luar Biasa dan Pendidikan Kesetaraan seperti Kelompok Belajar Paket A, B ataupun C.

USBN merupakan salah satu bentuk penilaian oleh satuan pendidikan.

USBN merupakan bentuk penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik.

Hal ini dilakukan sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu Satuan Pendidikan.

Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) merupakan ujian akhir dari satuan pendidikan yang berstandar nasional.

Oleh karena hasil USBN akan digunakan sebagai penentu kelulusan dari satuan pendidikan.

Untuk itu soal USBN diharapkan mampu memenuhi syarat instrumen yang baik, sehingga memberikan informasi yang valid dan objektif.

Sebaliknya Soal ujian yang kurang baik memberikan informasi yang tidak sesuai dengan capaian siswa.

Sehingga dapat merugikan siswa dan memberikan informasi yang tidak tepat atau menyesatkan untuk pengambil keputusan.

Penilaian melalui USBN merupakan penilaian yang terstandar secara nasional.

Untuk penilaian yang terstandar, harus memiliki acuan yang sama, baik itu dalam penyusunan soal maupun dalam pelaksanaan ujian.

Dalam penyusunan soal, yang menjadi acuan adalah kisi-kisi USBN.

Sedangkan kisi-kisi USBN disusun berdasarkan kriteria pencapaian Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, dan kurikulum yang berlaku.

Baca juga: Kisi Kisi UN USBN SMP SMA SMK Tahun 2018

Kisi-kisi USBN sebetulnya hanya merupakan langkah awal dari pengembangan soal USBN.

Langkah lainnya yang perlu ditempuh untuk memperoleh soal USBN yang berkualitas. Meliputi

(1) menyusun indikator,

(2) penulisan soal,

(3) telaah soal, dan

(4) perakitan soal.

Download Panduan Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional USBN.

Indikator soal merupakan jabaran dari lingkup materi dan level kognitif dari kisi-kisi USBN.

Indikator sebagai pedoman bagi penulisan atau perakitan soal.

Penulisan soal termasuk pedoman penskoran untuk soal uraian dilakukan oleh guru mata pelajaran pada masing-masing.

Soal yang dirakit oleh guru mata pelajaran pada masing-masing satuan pendidikan berdasarkan indikator soal yang disusun oleh KKG/MGMP.

Telaah soal dilakukan untuk mengklasifikasikan menjadi soal baik, kurang baik, dan soal ditolak.

Soal baik langsung diterima/dapat digunakan, yang kurang baik perlu diperbaiki, dan soal yang ditolak dikembalikan ke penulis atau tidak digunakan.

Soal-soal baik selanjutnya dirakit menjadi beberapa paket soal untuk digunakan dalam ujian digabung dengan soal dari pusat.

Perlu diingat oleh para guru bahwa di dalam kisi-kisi, kompetensi yang akan diuji masih terlalu luas dan bersifat umum.

Oleh sebab itu perlu dibuat indikator yang merupakan kompetensi yang lebih spesifik dn mudah diukur.

Komponen yang perlu diperhatikan dalam penyusunan indikator soal adalah subjek, perilaku yang akan diukur, dan kondisi/konteks/stimulus.

Oleh karena itu indicator yang baik harus memenuhi kriteria:

Memiliki ciri-ciri kompetensi yang akan diuji.

Memuat kata kerja operasional yang akan diukur.

Berkaitan dengan materi/konsep yang dipilih.

Dapat dibuat soalnya.

Contoh indikator penulisan soal yang memenuhi kriteria di atas:

Disajikan tabel permintaan yang berisi beberapa data tentang harga dan jumlah barang, peserta didik dapat menggambarkan grafik permintaan dengan benar.

Dari indicator di atas kita dapat merinci komponennya. Disajikan tabel permintaan yang berisi beberapa data tentang harga dan jumlah barang (kondisi/konteks/stimulus).

Peserta didik (Subjek) dapat menggambarkan grafik permintaan dengan benar (Perilaku). 

Download Panduan Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional USBN

Untuk soal dengan bentuk pilihan ganda, satu indikator sebaiknya digunakan untuk menyusun satu soal.

Namun untuk uraian, satu indikator boleh digunakan untuk menyusun lebih dari satu soal.

Bentuk soal USBN

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menetapkan bahwa bentuk soal USBN adalah 90% pilihan ganda, dan 10% uraian.

Oleh sebab itu penyusun soal harus memahami teknik penyusunan soal yang baik dan benar.

Pada soal pilihan ganda terdiri atas pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option).

Pilihan jawaban terdiri atas kunci jawaban dan pengecoh (distractor).

Kunci jawaban merupakan jawaban benar atau paling benar, pengecoh merupakan jawaban tidak benar.

Bagi peserta didik yang tidak menguasai materi dimungkinkan memilih pengecoh tersebut.

Sedangkan Soal bentuk uraian menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan gagasan-gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dalam bentuk uraian tertulis.

Bentuk soal esai dapat berupa uraian objektif dan non objetif.

Soal bentuk uraian objektif adalah rumusan soal atau pertanyaan yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep tertentu.

Sehingga penskoran dapat dilakukan secara objektif. Download Panduan Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional USBN

Soal bentuk uraian non objektif adalah rumusan soal yang menuntut sehimpunan jawaban berupa pengertian/konsep menurut pendapat peserta didik.

Sehingga penskorannya sukar dilakukan secara objektif.

Kedua bentuk soal yang digunakan dalam USBN masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Sehingga dengan digunakannya kedua bentuk soal tersebut dapat meminimalisir kekurangan yang ada. Adapun kelebihan bentuk soal plihan ganda adalah

(1) dapat diskor dengan mudah, cepat, dan memiliki objektivitas yang tinggi.

(2) dapat mengukur berbagai tingkatan kognitif.

(3) mencakup ruang lingkup materi yang luas.

(4) tepat digunakan untuk ujian berskala besar yang hasilnya harus segera diumumkan.

Kekurangannya adalah

(1) perlu waktu lama untuk menyusun soal.

(2) sulit membuat pengecoh yang homogen dan berfungsi.

(3) terdapat peluang untuk menebak kunci jawaban.

Kelebihan dan kekurangan bentuk soal uraian

Lain halnya dengan bentuk soal uraian atau esai yang memiliki kelebihan papat mengukur kompetensi.

Peserta didik dalam hal menyajikan jawaban terurai secara bebas, mengorganisasikan pikirannya, mengemukakan pendapatnya.

Dan mengekspresikan gagasan-gagasan dengan menggunakan kata-kata atau kalimat peserta didik sendiri.

Sedangkan kelemahannya adalah Jumlah materi atau pokok bahasan yang dapat ditanyakan terbatas, waktu untuk memeriksa jawaban cukup lama.

Penskorannya relatif subjektif, dan tingkat reliabilitas relatif lebih rendah dibandingkan dengan soal bentuk pilihan ganda.

Karena reliabilitas skor pada soal bentuk uraian sangat tergantung pada penskor tes.

Untuk memandu dalam menyusun soal USBN yang bermutu, Puspendik Kemdikbud telah mempubikasikan Panduan Penyusunan Soal USBN tahun 2018.

Bagi bapak/ibu guru yang menginginkan Panduan Penyusunan Soal USBN tahun 2018 dapat download di sini.

Sekian informasi tentang Download Panduan Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional USBN semoga bermanfaat.

One Reply to “Panduan Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional USBN 2018”

  1. untuk soal ujian praktik dibuat oleh sekolah masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *