Jenis Stimulasi Pertanyaan dalam Pembelajaran HOTS

Bertema.com – Jenis Stimulasi Pertanyaan dalam Pembelajaran HOTS.

Guru sebagai pendidik pada jenjang satuan pendidikan anak usia dini, dasar, dan menengah memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan peserta didik sehingga menjadi determinan peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.

Implementasi Kurikulum 2013 yang menjadi rujukan proses pembelajaran pada satuan pendidikan, sesuai kebijakan, perlu mengintegrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Integrasi tersebut bukan sebagai program tambahan atau sisipan, melainkan sebagai satu kesatuan mendidik dan belajar bagi seluruh pelaku pendidikan di satuan pendidikan.

Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter tidak terlepas dalam pembelajaran baik di luar maupun di dalam kelas.

Tercapainya pembelajaran yang berkualitas idealnya menghasilkan sikap yang baik, pengetahuan yang mumpuni dan keterampilan yang terakumulasi pada diri peserta didik.

Melalui proses pembelajaran yang menantang akan memberikan pengalaman belajar bermakna, sehingga pengalaman belajar tersebut dapat teraplikasikan oleh peserta didik dalam menghadapi permasalahan di kehidupan nyata.

Pemerintah mengharapkan para peserta didik mencapai berbagai kompetensi dengan penerapan HOTS atau Keterampilan Bepikir Tingkat Tinggi.

Kompetensi tersebut yaitu berpikir kritis (criticial thinking), kreatif dan inovasi (creative and innovative), kemampuan berkomunikasi (communication skill), kemampuan bekerja sama (collaboration), dan kepercayaan diri (confidence).

Lima hal yang disampaikan pemerintah yang menjadi target karakter peserta didik tersebut pada sistem evaluasi dan juga merupakan kecakapan abad 21.

Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (High Order Thinking Skills/HOTS) juga diterapkan menyusul masih rendahnya peringkat Programme for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dibandingkan dengan negara lain.

Pengembangan pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skill (HOTS) merupakan program yang dikembangkan sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan.

Jenis Stimulasi Pertanyaan dalam Pembelajaran HOTS

Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dalam bahasa umum dikenal sebagai  Higher Order Thinking Skills (HOTS) dipicu oleh empat kondisi berikut.

a. Sebuah situasi belajar tertentu yang memerlukan strategi pembelajaran yang spesifik dan tidak dapat digunakan di situasi belajar lainnya.

b. Kecerdasan yang tidak lagi dipandang sebagai kemampuan yang tidak dapat diubah, melainkan kesatuan pengetahuan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terdiri dari lingkungan belajar, strategi, dan kesadaran dalam belajar.

c. Pemahaman pandangan yang telah bergeser dari unidimensi, linier, hirarki atau spiral menuju pemahaman pandangan ke multidimensi dan interaktif.

d. Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang lebih spesifik seperti penalaran, kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan keterampilan berpikir kritis dan kreatif.

Definisi keterampilan berpikir tingkat tinggi (Resnick, 1987) adalah proses berpikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan dengan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar.

Pembelajaran yang berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi adalah pembelajaran yang melibatkan 3 aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi yaitu: transfer of knowledge, critical and creative thinking, dan problem solving.

Dalam proses pembelajaran keterampilan berpikir tingkat tinggi tidak memandang level KD, apakah KD nya berada pada tingkatan C1, C2, C3, C4, C5, atau C6.

Dalam merencanakan pembelajaran berpikir tingkat tinggi kendala yang sering muncul adalah menyiapkan kondisi lingkungan belajar yang mendukung terciptanya proses berpikir dan tumbuh kembangnya sikap dan perilaku yang efektif.

Proses ini bisa dilakukan dengan menjalin kegiatan berpikir dengan konten melalui kolaborasi materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan antar konsep (Lewis & Smith, 1993).

Jenis Stimulasi Pertanyaan dalam Pembelajaran HOTS

Hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi terletak pada konten/materi pembelajaran dan konteks peserta didik.

Apabila peserta didik belum siap untuk melakukan keterampilan berpikir tingkat tinggi, maka perlu dibangun terlebih dahulu jembatan penghubung antara proses berpikir tingkat rendah menuju berpikir tingkat tinggi.

Caranya adalah dengan membangun skema dari pengetahuan awal yang telah diperoleh sebelumnya dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.

Setelah terpenuhi, maka guru perlu mempersiapkan sebuah situasi nyata yang dapat menstimulasi proses berpikir tingkat tinggi

dengan menciptakan dilema, kebingungan, tantangan, dan ambiguitas dari permasalahan yang direncanakan akan dihadapi peserta didik (King, Goodson & Rohani, 2006).

Pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau HOTS, peran

guru tidak banyak menerangkan, sebaliknya guru banyak melakukan stimulasi pertanyaan

untuk mendorong memunculkan pikiran-pikiran orisinal peserta didik, pertanyaan-pertanyaan tersebut mencakup:

1. Pertanyaan untuk memfokuskan perhatian atau kajian untuk diperdalam;

2. Pertanyaan untuk mendorong peserta didik berpikir menemukan alasan atau mengambil posisi pendapat;

3. Pertanyaan untuk mengklarifikasi suatu konsep dengan arah bisa merumuskan definisi yang jelas lewat memperbandingkan, menghubungkan, dan mencari perbedaan atas konsep-konsep yang ada;

4. Pertanyaan untuk mendorong munculnya gagasan-gagasan yang kreatif dan alternatif lewat imajinasi;

5. Pertanyaan untuk mendorong peserta didik mencari data dan fakta pendukung serta bukti-bukti untuk mengambil keputusan atau posisi;

6. Pertanyaan untuk mendorong peserta didik mengembangkan pikiran lebih jauh dan lebih mendalam, dengan mencoba mengaplikasikan sesuatu informasi pada berbagai kasus dan kondisi yang berbeda-beda, sehingga memiliki lebih banyak argumentasi.

7. Pertanyaan untuk mengembangkan kemampuan mengaplikasikan aturan atau teori yang lebih umum pada kasus yang tengah dikaji.

Dalam praktik pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau HOTS, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam empat macam pertanyaan

yang menjadi sarana penting bagi gru untuk melaksanakan pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik.

Pertanyaan tersebut adalah:

1. Pertanyaan Inferensial

Pertanyaan yang segera dijawab setelah peserta didik melakukan pengamatan maupun pengkajian atas bahan yang diberikan oleh guru.

Bahan informasi tersebut bisa berupa potret, gambar, tulisan singkat, sanjak, berita, dan sebagainya.

Pertanyaan ini bertujuan mengungkap apa yang dilihat atau didapati dan apa yang dipahami oleh peserta didik setelah mengamati atau membaca bahan yang disajikan oleh guru.

Berikut beberapa contoh pertanyaan Inferensial:

a. Apa yang Saudara temukan?

b. Apa yang Saudara ketahui dengan … Ini?

c. Bagaimana pendapat Saudara?

d. Adakah Saudara menemukan kelebihan atau kelemahan apa yang Saudara baca?

e. Bagaimana sikap Saudara dengan makna yang saudara peroleh?

Pertanyaan inferensial ini mencakup pula pertanyaan:

a. Membangkitkan perhatian atau minat, contohnya, Siapakah orang paling hebat di Indonesia? Bagaimana perjalanan hidupnya?

b. Diagnose atau checking, contohnya, Apa yang Saudara ketahui dengan korupsi?

c. Mengingat spesifik informasi dari suatu peristiwa, contohnya, Kapan terjadi gempa dan tsunami di Aceh? Berapa korban nyawa akibat gempa dan tsunami tersebut?

d. Manajerial, contohnya, Bagaimana cara menegakkan disiplin di sekolah?

2. Pertanyaan Interpretasi

Pertanyaan interpretasi diajukan pada peserta didik berkaitan dengan informasi yang tidak lengkap atau tidak ada dalam bahan yang disajikan oleh guru, dan para peserta didik mesti bisa memberikan makna.

Dengan pertanyaan ini bertujuan agar para peserta didik bisa memberikan makna suatu konsekuensi dari suatu gejala atau sebab yang ada.

Berikut beberapa contoh pertanyaan Interpretasi

a. Mengapa Saudara memiliki pendapat itu?

b. Apa penyebab kegagalan dari upaya untuk …?

c. Apa penyebab banjir besar yang terjadi di …?

Pertanyaan interptretasi mencakup pula:

a. Mendorong proses berpikir, contohnya, Apa yang Saudara ketahui dengan vandalisme? Apa penyebabnya? Bagaimana cara mengatasinya?

b. Struktur dan mengarahkan pada learning, contohnya, Ada beberapa bentuk korupsi, yaitu: terpaksa, tamak, dan dirancang secara berjamaah. Bentuk mana yang paling berbahaya?

c. Membangkitkan sikap emosi, contohnya, Bagaimana seandainya Saudara menjadi orang miskin yang ditolak berobat di rumah sakit karena tidak mampu membayar?

d. Mendalami masalah, contohnya, Apa kesimpulan Saudara setelah melihat film tersebut? Bagaimana dengan karakter pemainnya?

e. Interpretasi, apa akibat yang terjadi, contohnya, Setelah membaca trilogi Andrea Hirata, kira-kira apa novel keempat?

3. Pertanyaan Transfer

Apabila dua macam pertanyaan sebelumnya merupakan upaya untuk mendalami masalah atau hakekat sesuatu, pertanyaan transfer merupakan upaya untuk memperluas wawasan atau bersifat horizontal.

Berikut beberapa contoh pertanyaan Interpretasi

Apakah perbedaan teori … dengan teori …? Bisakah Saudara menjelaskan jawaban lebih detail lagi? Apabila didetailkan, ada berapa macam gagasan Saudara ini? Bagaimana, apabila jawaban Saudara dipisah antara yang negatif dan positif?

Pertanyaan transfer mencakup pula aplikasi ilmu pada kasus yang lain. Contoh, Bagaimana kalau teori ini diterapkan pada kasus …? Apakah mungkin apabila hal tersebut dilaksanakan di …? Adakah kemungkinan lain upaya untuk …?

4. Pertanyaan Hipotetik

Pertanyaan hipotetik dikenal juga sebagai pertanyaan tentang hipotesis, generalisasi, dan kesimpulan.

Dengan pertanyaan hipotesis dapat mendorong peserta didik melakukan prediksi atau peramalan dari sesuatu permasalahan yang dihadapi dan/atau mengambil kesimpulan untuk generalisasi.

Hipotesis dan kesimpulan ini merupakan hasil pemahaman permasalahan ditambah data atau informasi yang telah dimiliki dan/atau data yang sengaja telah diperoleh untuk mengkaji permasalahan tersebut lebih jauh.

Sebagai contoh adalah beberapa pertanyan berikut ini:

a. Apa yang terjadi manakala cuaca panas dingin berubah cepat silih berganti?

b. Apa yang terjadi jika ada orang tidur di atas banyak paku dan bagaimana juga jika tidur di atas dua atau tiga paku?

c. Bagaimana seandainya kebijakan kendaraan genap ganjil yang dijalankan di Jakarta dilaksanakan di kota Saudara. Adakah yang perlu direvisi atau dikembangkan dari kebijakan tersebut?

d. Bagaimanakah kalau suporter yang melakukan kekerasan kesebelasannya dibekukan atau dilarang bertanding?

Pertanyaan Hipotetik mencakup pula:

a. Pertanyaan sebab akibat, contohnya, Apa yang akan terjadi jika minyak bumi habis?

b. Pertanyaan reflektif, mempertanyakan kebenaran, contohnya, Bagaimana Saudara tahu kalau yang disajikan di tayangan infonet itu benar?

Bagi anda para guru dapat mengembangkan dan memperdalam pertanyaan sebagai stimulasi dalam pembelajaran, dengan demikian peserta didik akan menemukan hal baru sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Sumber /Rujukan:  Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi.

Demikian informasi terkait Jenis Stimulasi Pertanyaan dalam Pembelajaran HOTS, semoga bermafaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: