Kepemimpinan Spiritual Stretegi Meraih Sukses Masa Depan

Bertema.com – Kepemimpinan Spiritual Stretegi Meraih Sukses Masa Depan.

Kepemimpinan sekolah yang efektif bergantung pada teori kepemimpinan yang diyakini oleh kepala sekolah.

Karena tidak ada teori kepemimpinan yang sempurna, maka seorang kepala sekolah harus memilih atau bahkan menggunakan beberapa teori yang tepat.

Perlu disadari oleh kepala sekolah bahwa efektifitas teori kepemimpinan yang Ia terapkan pada satu sekolah, belum tentu cocok untuk sekolah lainnya.

Kepala sekolah yang visioner berarti ia telah memiliki salah satu karakteristik sebagai seorang kepala sekolah yang mengimplementasikan kepemimpinan spiritual.

1. Model Orientasi Masa Depan

Dalam kontekskinerja berorientasi untuk sukses masa depan dapat diwujudkan melalui kerangka model The future orientation three-component model (TFOT-CM) yang dikembangkan Seginer, Nurmi dan Poole (dalam Seginer, 2009).

Model ini mencantumkan tiga komponen yaitu motivational (motivasi), cognition (kognisi), dan behavior representation (representasi tingkah laku) serta hubungan antar ketiganya dalam konteks masa depan

Berikut ini diuraikan secara singkat salah satu model yaitu “The future orientation three-component model (Model orientasi masa depan tiga komponen)” untuk meraih sukses masa depan yang dikembangkan Seginer, Nurmi, dan Poole (dalam Seginer, 2009).

Kepemimpinan Spiritual Stretegi Meraih Sukses Masa Depan 

Berdasarkan Gambar di atas, Tiga komponen dalam TFOT-CM dapat dijelaskan secara singkat sebagai berkut.

Komponen motivasi dalam model tersebut dapat diartikan sebagai dorongan untuk berbuat sesuatu.

Dalam komponen ini terdapat tiga sub komponen (Value, expectance, dan control) yang merupakan faktor pendukung seseorang memiliki motivasi.

Pertama, Value yaitu sesuatu yang paling berharga dalam hidup seseorang. Value juga merupakan mind set seseorang.

Sikap, pikiran dan tingkah laku seseorang dipengeruhi oleh value yang dimilikinya. Seseorang yang memiliki value materialis menganggap bahwa harta kekayaan,

materi merupakan suatu yang paling berharga dalam hidupnya, sedangkan seseorang yang memiliki value altruis,

maka sikap, pikiran dan perilakunya semata-mata hanya tercurah untuk membantu orang lain dan itu merupakan sesuatu yang paling penting dalam hidupnya.

Oleh sebab itu,Kepala sekolah hendaknya mengembangkan value diri yang berkait dengan pengembangan sekolah,

misalnya suatu yang paling penting dalam hidupku adalah kemajuan dan perkembangan sekolah.

Kedua, expectance yaitu harapan untuk mencapai suatu tujuan yang ditentukan.

Bilamana kepala sekolah memiliki value yaitu kemajuan dan berkembang sekolahnya adalah penting dalam hidupnya, maka ekspetasinya adalah ingin mewujudkan kemajuan dan perkembangan sekolah tersebut.

Ketiga, control atau pengendalian dapat diartikan sebagai suatu yang berkait dengan kemampuan seseorang untuk menentukan apakah sesutu tindakan harus dikerjakan atau tidak berkait dengan tujuan yang hendak dicapai.

Kepala sekolah yang memilikin kontrol diri yang baik akan mengarahkan tindakannya untuk tidak melakukan program-program yang tidak relevan dengan tujuan sekolah,

namun akan merealisasi program-program sebagaimana value dan ekspetasinya yaitu untuk memajukan dan pengembangan sekolahnya.

Komponen kedua dalam TFOT-CM adalah kognisi

Komponen kognisi terdiri dari sub komponen hope (pengharapan) dan fear (ketakutan). Konsep hope berbeda dengan expektasi sebagaimana dikemukakan di depan.

Hope merupakan pengharapan yang bersifat spiritual. Kepala sekolah yang memiliki hope berarti dirinya meyakini bahwa Tuhan akan memenuhi harapannya.

Bilamana, kepala sekolah bertujuan untuk memajukan dan mengembangkan sekolahnya di masa mendatang, dirinya meyakini bahwa Tuhan akan memenuhinya.

Sub komponen kedua dari aspek kognisi adalah fear (cemas atau takut) yaitu pikiran cemas atau takut bilamana tujuan masa depanl nya tidak terwujud.

Kepala sekolah akan merasa cemas atau takut terhadap kemajuan dan perkembangan sekolahnya di masa depannya bila belum menunjukkan kemajuan yang ia harapkan.

Komponen ketiga dalam TFOT-CM yaitu behavior representation (perwujudan perilaku atau kinerja) yaitu kemampuan seseorang untuk bertindak dalam upaya mencapai tujuannya.

Komponen ketiga ini terdiri dari sub komponen explorasi dan komitmen.

Eksplorasi adalah kemampuan seseorang untuk terus menggali berbagai sumber ilmu pengetahuan

(belajar mandiri, konsultasi pakar, mengikuti kegiatan ilmiah dan sejenisnya) sebagai modal mewujudkan kemajuan dan perkembangan dirinya.

Sub komponen komitmen berarti kemampuan seseorang untuk terus bertindak, tanpa putus asa, tidak mudah menyerah sebelum tujuan terwujud.

Komponen ketiga dari TFOT-CM sebagai mind set eksternal, sedangkan komponen sebelumnya merupakan mind set internal.

Kepala sekolah hendaknya memiliki kedua mind set tersebut.

Perwujudan kemajuan dan perkembangan sekolah merupakan mind set eksternal yang tidak akan terjadi bila tidak diawali oleh adanya mind set intenal (motivasi dan kognisi).

TFOT-CM tersebut sejalan dengan pandangan Aspinwall (2005) yang menyatakan bahwa kinerja yang berorientasi pada masa depan

berkaitan dengan proses aktivitas pikiran, perasaan, dan upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan di masa depan yang diobsesikan.

Kepemimpinan Spiritual Stretegi Meraih Sukses Masa Depan

Di samping itu, individu akan berupaya proaktif agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi.

Kondisi psikologis ini berkaitan dengan adanya keyakinan seorang kepala sekolah bahwa dirinya mampu mencapai tujuan-tujuan masa depannya.

Ini berarti bahwa dirinya harus memiliki self efikasi yang merupakan prediktor terkuat bagi kinerjanya (Coutinho & Neuman, 2008).

Mereka juga berpendapat bahwa tujuan pribadi di masa depan mempengaruhi regulasi-diri dalam mengembangkan tujuan yang mengarahkan kepencapaian tujuan akhir.

Pengembangan tujuan ini akan mewujudkan suatu tugas-tugas yang dianggap sebagai alat dan berperan untuk mencapai tujuan akhir, serta dinilai memiliki value insentive yang lebih besar

Para psikolog sosial dan gerontologists juga mengakui fungsi keyakinan yang berorientasi masa depan akan memotivasi perilaku yang mengarah pada tujuan positif;

Faktor internal maupun eksternal dapat berperan terhadap manusia untuk berperilaku secara efektif, membantu mengurangi stres, dan membangun sumber daya dalam menghadapi tantangan hidup.

2. Lima jenis pikiran untuk sukses masa depan

Kepala sekolah diharapkan mampu memberdayakan semua unsur di sekolahnya khususnya guru dan staf untuk mencapai sukses masa depan sekolah yang dipimpinnya.

Untuk mampu memberdayakan tersebut seorang kepala sekolah dipersyaratakan memiliki lima pikiran untuk masa depan.

Berikut ini secara singkat dikemukakan pandangan Howard Gardner yang yang dituangkan dalam bukunya Five Minds for The Futurepada tahun 2006.

Gardner dalam menulis buku ini sebagai hasil pengalaman, pengendapan, danrefleksi/perenungannyaselama beberapa dekade sebagai seorang peneliti bidang psikologi, ahli pendidikan, dan konsultan pendidikan maupun perusahaan.

Ia membuat reduksi atau semacam simpulan mengenai bagaimana dinamika pikiran manusia berkembang, diorganisasi, dan seperti apa sepenuhnya berkembang.

Secara khsus, ia memperhatikan pada jenis-jenis pikiran apa saja yang dibutuhkan orang untuk sukses di masa datang dengan menyandingkan dan menyeimbangkannya dengan aspeknilai-nilai kemanusiaan.

Kepemimpinan Spiritual Stretegi Meraih Sukses Masa Depan

Lima pikiran yang diperlukan untuk suskses masa depan menurut Gardner.

(1) pikiran terdisiplin (The dicipline mind);

(2) Pikiran mengintegrasikan (The synthesis mind);

(3) Pikiran mencipta (the creating mind);

(4) Pikiran merespek (The respecful mind); dan

(5) Pikiran etis (The etical mind).

Menurutnya,lima pikiran tersebut penting baik diwaktu lalu, sekarang, terlebih di masa datang.

Pertama, The diciplin mind

adalah perilaku kognisi yang mencirikan suatu pengetahuan teradap disiplin ilmu tertentu dan berupaya terus menerus untuk meningkatkan keterampilan dan pemahaman terhadapnya.

Disiplin ilmu yang harus dikembangkan oleh kepala sekolah adalah disiplin ilmu manajereial dan leadership.

Hasil penelitian menunjukan bahwa seseorang untuk mencapai pikiran ini membutuhkan waktu sepuluh tahun.

Pengalaman pribadi Gardner menggambarkan proses ini diawali dari kegemaran menulis.

Ia menyukai menulis sejak anak-anak dan terus terasah sepanjang waktu.

Dengan aktivitas ini, ia memiliki keterampilan merencanakan, melaksanakan, mengkritik, dan mengajar tata cara penulisan.

Ia terus menerus berupaya meningkatkan kualitas tulisannya.

Disiplin formal yang ia tekuni adalah psikologi dan ia membutuhkan waktu satu dekade untuk bisa berfikir selayaknya psikolog.

Pertanyaaannya adalah bagaimana tingkat diciplin mind (ilmu manajerial dan kepemimpinan) Saudara sebagai calon kepala sekolah?

Kedua, The synthesis mind (pikiran mensintesis) 

adalah perilaku mengakomodasi informasi dari berbagai sumber, memahami, mengevalusi secara objektif, dan

menyatukannya dengan cara yang logis, hasil sintesisnya menjadi mudah dipahami bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Kemampuan mengintegrasikan ini bernilai pada waktu lalu, sekarang, dan pada waktu mendatang.

Gardner memiliki pikiran untukmengintegrasikankemampuan yang terasah terutama ketika mahasiswa melakukan aktivitas membaca dan menulis.

Ia suka menulis, membaca berbagai buku dari para dosen terkemuka dan menonjol di bidangnya.

Gardner mencoba memahami semua sumber yang berkaitan dengan pengembanganilmu tersebut, kemudian menyatukannya dengan cara yang produktif.

Karya-karya artikel dan buku pada awalmulanya dihasilkan dari kesanggupan pikiran mengintegrasikan berbagai ilmu pengetahuan.

Seorang manajer atau pemimpin bidang apa saja termasuk kepala sekolah memerlukan keterampilan mengintegrasikan berbagai pengetahuan.

Hal ini mengingat bahwa seorang pemimpin, dalam hal ini kepala sekolah, harus mampu memikirkan dan

melaksanakan berbagai informasi mengenai pekerjaan persekolahan, menentukan prioritas mana yang dikerjakan terlebih dahulu dan yang kemudian.

Keterampilan mengintegrasikan berbagai pengetahuan ini dapat mewujudkan kesanggupan untuk menggabungkan berbagai informasi, ide dan visi,

kemudian mengemukakan gagasan, serta visi barunya kepada bawahannya.

Pertanyaanya adalah apakah Saudara telah sadar dan mengembangkan kemampuan mengintegrasikan berbagai penegtahuan,

sehingga dalam memimpin suatu pertemuan simpulan-simpulan Saudara dapat diterimadan ditindak-lanjuti oleh semua anggota dengan baik.

Kepemimpinan Spiritual Stretegi Meraih Sukses Masa Depan

Ketiga, The creating mind (kemampuan mencipta)

merupakan kemampuan memanfaatkan pikiranterdisiplindan mensintesis untuk menghasilkan sesuatu yang baru.

Pikiran ini nampak pada kesanggupan individu memunculkan ide-ide baru, pertanyaan-pertanyaan dan atau jawaban tak terduga dan juga produk baru.

Produk dikatakan sebagai karya kreatif bilamana memiliki karakteristik novelty (baru), original (orisinil), dan high product (produk berkualitas tinggi).

Karya cipta dari hasil pikiran ini dapat berterima, karena keberadaannya ada pada suatu bidang yang belum diatur.

Produk berkualitas tinggi dicirikan bilamana para pakar dibidangnya telah mengapresiasinya.

Gardner menunjukkan pemilikan pikiran kreatif ini dengan mencipta Teori Multiple Intelligences (MI).

Multiple Intelligences (MI) ini adalah salah satu produk kreatif yang sangat fenomental.

Teori inteligensi adalah tunggal (IQ) yang telah seabad lebih diyakini oleh para pakar psikologi, dan diakhir tahun1980-an terasa tergugat dengan munculnya teori MI karya Gardner.

Karya teori MI ini memiliki karakteristik novelty, original,dan high product.

Pertanyaannya adalah apakah Saudara telah berpikir dan berbuat untuk menghasilkan suatu ide atau produk inovatif dalam bidang Pendidikan

yang bermanfaat bagi berkembangnya sekolah yang Saudara akan pimpin, meskipun tidak se-fenomental karya Gardner tersebut?

The respectful mind dan The etical mind adalah dua pikiran yang penjelasannya berbeda dengan tiga pikiran terdahulu.

Perbedaannya adalah jika tiga pikiran yang bertama berkaitan dengan aspek kognitif, sedang yang dua terakhir berkait dengan interaksi antar manusia.

Keempat, The respectful mind

adalah kemampuan memperhatikan, memahami, dan menerima berbagai perbedaan diantara individu atau kelompok, serta berupaya bekerja secara efektif bersama mereka, sehingga bersifat konkrit.

Di dunia ini semua saling berhubungan, sikap tidak toleran dan tidak merespek tidak akan mendapat tempat.

Pikiran ini sebagai perwujudan dari sikap empati yaitu memahami pikiran dan perasaan sebagaimana kondisi mereka, tanpa harus kehilangan jati diri.

Kepemilikan pikiran ini akan dimiliki oleh pemimpin yang memiliki spiritualitas yang memadahi.

Pemimpin yang mampu merespek ide, gagasan atau pemikiran bawahannyaakan terterima dan didukung oleh bawahannya.

Pertanyaannya apakah Saudara dalam berkomunikasi, berdiskusi, berargumentasi telah bersikap dan perilaku untuk merespek pandangan-pandangan orang lain yang berbeda dan bertentangan dengan gagasan Saudara?

Kelima, The etical mind (Pikiran etis)

suatu kemampuan yang lebih abstrak daripada pikiran merespek.

The etical mind adalah kemampan merenungkan sifat dari pekerjaan dan kebutuhan atau keinginan masyarakat dimana seseorang tinggal atau bekerja.

Pikiran ini mengkonsepsikan bagaimana pekerjaannya bisa mengejar tujuan yang berada di luar kepentingan pribadi. namun lebih pada tujuan untuk menyejahterakan masyarakat.

Pikiran etis, disamping berupaya untuk menyejahterakan masyarakat dengan pengetahun terdisiplin yang dimilikinya,

ia juga harus mampu berfikir sebaliknya yaitu menempatkan dirinya sebagai masyarakat yang membutuhkannya.

Dalam konteks pikiran etis ini, seorang kepala sekolah semata-mata tidak lagi berfikir untuk perkembangan karir pribadinya, keinginan untuk mendapat penghargaan dari pemerintah,

atau dipuji atasan, bawahan atau masyarakat secara umum, sudah mengenyampingkan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup diri dan keluarganya;

melainkan ia bekerja demi memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat, serta perkembangan sekolah yang dipimpinnya.

Gardner telah menunjukkan dua pikiran terakhir ini yaitu bahwa aplikasi teori MI telah memberikan sumbangan terhadap perkembangan pendidikan di seluruh dunia.

Pertanyaannya apakah Saudara telah menyadari, berpikir dan atau bertindak bahwa apa yang saudara lakukan diniatkan untuk memberikan manfaat bagi guru, murid warga sekolah,

dan mayarakat pada umumnya khususnya dalam bidang pendidikan? Dengan kata lain, apakah tindakan Saudara telah diniatkan sebagai ibadah?

Sumber Referenasi

Bahan Pembelajaran Diklat Calon Kepala Sekolah, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Lembaga Pengembangan Dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) Indonesia.

Baca Juga: Konsep Kepemimpinan Spiritual

Demikian ulasan terkait Kepemimpinan Spiritual Stretegi Meraih Sukses Masa Depan, semoga bermanfaat.

Bagianda yang menginginkan artikel terbaru dari Bertema.com. silahkan klik pada Notify me of new post by email yang ada di bawahartikel.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: