Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Karakter Anak

Bertema.com- Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Karakter Anak.

Setiap keluarga pasti mendambakan akan hadirnya seorang anak yang sering kita sebut sebagai buah hati.

Rasanya kurang lengkap apabila di dalam membangun mahligai rumah tangga tidak dikaruniai seorang anak.

Kehadiran anak di dalam keluarga dapat mewarnai kehidupan dan melengkapi kebahagiaan ayah, ibu maupun anggota keluarga lainnya.

Namun pertanyaannya adalah sejauh mana orang tua mampu mendidik anak-anaknya?

Apakah dengan memberi materi yang berlimpah sudah cukup?

Serta bagaimana seandainya orang tua harus bekerja keras sehingga hampir tidak memiliki waktu untuk bersama dengan anak-anaknya?

Masih banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh sebagain besar orang tua terkait perkembangan anak-anaknya.

Peranan orang tua dalam kaitan dengan anak-anak tidak hanya sebatas melahirkan, memberi makan serta menyediakan tempat tinggal bagi mereka.

Tetapi juga harus memberikan pendidikan yang memadai, baik yang sifatnya formal maupun non formal.

Orang tua juga perlu menanamkan nilai-nilai luhur, kebiasaan-kebiasaan baik, dan nilai keagamaan.

Dengan adanya nilai-nilai tersebut dapat membantu anak-anak untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang utuh dan berkualitas.

Dalam konteks inilah orang tua benar-benar memiliki peran sangat penting karena tidak dapat diwakilkan kepada pihak lain.

Sebab orang tua atau keluarga adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Karakter Anak

Masih segar dalam ingatan kita adanya peristiwa tindak tidak senonoh pada wanita.

Perbuatan itu dilakukan oleh dua remaja yang masih duduk di bangku SMP dan SMK di Kabupaten Semarang.

Tidak berselang waktu yang lama, terjadi tindakan tercela terhadap pengemudi taksi online yang dilakukan oleh pelajar SMK di kota Semarang.

Bahkan ada juga peristiwa yang terjadi di Sampang Madura, seorang siswa SMA menganiaya guru Seni Rupa.

Dari peristiwa tersebut yang menjadi aktornya adalah anak.

Pertanyaannya adalah siapa yang perlu dimintai pertanggungjawaban atas peristiwa tersebut?

Tentu semua pasti bilang yang bertanggungjawab ya… sang pelaku, begitu bukan?

Pastinya jawaban tersebut tidak salah, tetapi juga tidak seratus persen benar.

Sebab para pelaku tersebut masih tergolong dalam kategori anak di bawah umur.

Yang notabene masih butuh pengawasan ekstra dari orang tuanya.

Tentu orang tuanya tidak boleh lepas tangan terhadap tindakan anak-anaknya.

Berkaca dari peristiwa di atas, kita semua perlu menyadari akan pentingnya pendidikan karakter atau budi pekerti diberikan kepada anak.

Sebagai orang tua, tidak bisa membebankan tanggung jawab pendidikan budi pekerti kepada sekolah.

Ingat…sekolah adalah keluarga kedua dan guru adalah orang tua kedua sedangkan orang tua sebagai pendidik utama bagi anak-anak.

Perilaku siswa di sekolah atau masyarakat yang dianggap menyimpang dari norma, sedikit banyak mencerminkan pendidikan yang mereka peroleh dari keluarga.

Oleh sebab itu orang tua perlu mendidik anak terkait dengan norma, etika, dan wajib menanamkan rasa simpati serta empati.

Keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi dalam perkembangan kepribadian anak dan mendidik anak dirumah.

Fungsi keluarga/orang tua dalam mendukung pendidikan di sekolah adalah dalam pembentukan kepribadian dan mendidik anak di rumah.

Orang tua berkewajiban menjamin kehidupan emosional dan menanamkan dasar pendidikan moral kepada.

Selain itu orang tua juga bertanggung jawab dalam memotivasi dan mendorong keberhasilan anak dalam kesempatan belajar.

Sehingga memiliki berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Karakter Anak

Sehingga anak memiliki bekal yang berguna bagi kehidupan kelak dan mampu menjadi manusia dewasa yang mandiri.

Memiliki seorang anak yang yang beraklak mulia dan berbudi pekerti luhur menjadi dambaan setiap orang tua.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara agar anak dapat berkembang sesuai dengan harapan orang tua?

Pertanyaan yang sederhana tetapi penuh makna, yang harus dijawab oleh orang tua dengan tepat.

Sebenarnya mendidik anak merupakan kewajiban hakiki yang harus dilakukan oleh orang tua.

Artinya orang tua tidak boleh melimpahkan tanggung jawab ini kepada orang lain.

Betapapun beratnya tanggung jawab ini harus dijalani oleh orang tua.

Karena apabila anak memperoleh didikan yang menyimpang di masyarakat orang tua akan menyesal. .

Pendampingan orang tua dalam pendidikan anak diwujudkan dalam bagaimana cara orang tua mendidik anak.

Upaya orang tua mendidik anak inilah yang kemudian dikenal dengan istilah pola asuh.

Setiap orang tua berusaha menggunakan cara yang paling baik menurut mereka dalam mendidik anak.

Dalam melaksanakan tugas mendidik anak, orang tua harus membekali dirinya dengan pengetahuan dan kearifan.

Hal ini dibutuhkan agar terhindar dari kesalahan dan menyimpang dalam melaksanakan tugas mulia tersebut.

Sebagai orang tua, hendaknya kita harus tetap menyeimbangkan antara perasaan kasih sayang dengan ketegasan pada anak.

Perlakukan anka kita dengan penuh kasih sayang, tegas dan disiplin.

Ciri khas peranan orang tua selaku pendidik pertama dan utama – adalah cinta kasih mereka sebagai orangtua.

Cinta kasih itu tercermin dalam tugas mendidik, karena melalui tugas itu orang tua melengkapi dan menyempurnakan tugas pengabdian kepada kehidupan.

Selain menjadi sumber, cinta kasih orang tua terhadap anak-anak merupakan prinsip yang menjiwai tugas ini.

Yang menghilhami serta mengarahkan segala kegiatan kongkrit dalam mendidik.

Memperkaya anak dengan nilai keramahan, ketabahan, kebaikan hati, pengabdian, sikap tanpa pamrih merupakan buah hasil cinta kasih yang paling berharga.

Baca juga: Tips Orang Tua Menyiapkan Anak Menghadapi Ujian

Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Karakter Anak

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak adalah:

Menghindari pola asuh otoriter.

Orang tua dengan pola asuh otoriter memiliki kecenderungan tidak mau memikirkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Titik tumpu asuhan orang tua terfokus pada masa kini.

Bentuk pola asuh yang demikian harus dihindari oleh orang tua.

Kita sebagai orang tua tidak bisa menuntut anak agar mematuhi standar yang kita tentukan sepihak.

Akibat adanya pola asuh otoriter adalah anak menjadi tidak percaya diri, ragu-ragu dan pasif.

Dalam menjalankan tugas atau perintah dari orang tua bukan karena kesadarannya sendiri, melainkan disebabkan oleh rasa takut kan adanya hukuman.

Apabila orang tua menerapkan pola asuh otoriter, anak akan memiliki kecenderungan berperilaku antisosial, agresif, impulsif dan perilaku mal adaptif lainnya.

Menghindari pola asuh permisif.

Dalam pola asuh permisif, orang tua menempatkan anak dalam segala-galanya.

Orang tua selalu memenuhi apa yang menjadi keinginan sang anak karena khawatir anaknya kecewa.

Dampak pola asuh permisif adalah anak menjadi tampak responsif, namun tampak kurang matang karena manja.

Anak juga memiliki sifat impulsif dan mementingkan diri sendiri, kurang percaya diri dan mudah menyerah dalam menghadapi.

Oleh karena itu orang tua harus menghindari pola asuh yang demikian, karena dapat merugikan anak dalam mengembangkan potensi diri.

Menghindari pola asuh masa bodoh.

Orang tua dengan pola asuh masa bodoh cenderung terkesan membiarkan segala sesuatu yang dilakukan oleh anak.

Orang tua tidak menyadari bahwa sebetulnya secara tidak disengaja telah melakukan penelantaran terhadap anaknya.

Anak dibiarkan berkembang sendiri untuk menemukan jati dirinya.

Akibat dari pola asuh ini berpotensi terhadap mnculnya kenakalan remaja.

Karena anak tidak menemukan perhatian dan kasih sayang dalam keluarga, maka anak mencari pelampiasan kekecewaan di luar keluarga.

Akibatnya banyak anak yang terjerumus ke dalam tindakan yang terkadang melanggar norma dan etika.

Oleh karena itu seagai ornag tua kita harus menghindari pola asuh masa bodoh ini.

Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Karakter Anak.

Kembangkan pola asuh demokratis.

Pola asuh yang patut dilakukan di dalam mendidik anak adalah demokratis.

Orang tua wajib memprioritaskan kepentingan anak, tapi juga mengendalikan keinginan-keinginan anak.

Pembimbingan diarahkan agar anak mampu mengembangkan potensi diri untuk mencapai kemandirian.

Dampak pola asuh ini terhadap karakter anak adalah mandiri, tegas dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri.

Anak lebih percaya diri akan kemampannya dalam menyelesaikan tugas-tugas.

Memiliki keterampilan sosial yang baik dan terampil dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Selain itu anak berkembang lebih kreatif dan memiliki motivasi berprestasi serta memiliki karakter dan budi pekerti terpuji.

Penerapan pola asuh yang tepat dapat berpengaruh terhadap kepribadian anak.

Setiap orang tua tentunya mengharapkan anak-anaknya memiliki karakater dan kepribadian yang baik.

Namun demikian orang tua juga perlu menyadari bahwa lingkungan pergaulan juga turut berperan dalam membentuk keribadian anak.

Oleh sebab itu orang tua berkewajiban memantau dan bahkan mendampingi anak agar tidak salah dalam memilih teman.

Kesan pembiaran terhadap anak dalam pergaulan dapat berakibat fatal apabila anak tidak memiliki dasar kepribadian yang kuat dari keluarga.

Demikianlah sedikit gagasan akan pentingnya Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Karakter Anak, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: