Teori Belajar Behavioristik dan implikasinya dalam pembelajaran

Bertema.com – Teori Belajar Behavioristik dan implikasinya dalam pembelajaran.

Pada kesempatan ini admin Bertema akan membagikan Teori Belajar Behavioristik dan implikasinya dalam pembelajaran.

Teori Belajar Behavioristik dan implikasinya dalam pembelajaran admin bagikan untuk mengingatkan para guru dan calon guru tentang teori belajar ini.

Guru sebagai tenaga profesional mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat penting dalam Menghasilkan Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif.

Oleh karena itu, profesi guru harus dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat.

Konsekuensi dari jabatan guru sebagai profesi, diperlukan suatu sistem pembinaan dan pengembangan terhadap profesi guru secara terprogram   dan   berkelanjutan.

Dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat, tuntas dan tidak setengah-setengah serta kepemilikan kepribadian yang prima,

maka diharapkan guru terampil membangkitkan minat peserta didik kepada ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penyajian layanan pendidikan yang bermutu.

Agar guru tetap dapat menjaga dan meningkatkan profesionalismenya, maka guru harus memahami berbagai macam teori belajar.

Nah, pada kesempatan ini admin akan berbagi Teori Belajar Behavioristik dan implikasinya dalam pembelajaran.

Teori Belajar Behavioristik dan implikasinya dalam pembelajaran

Teori Belajar Behavioristik dan implikasinya dalam pembelajaran

Istilah yang sering digunakan untuk menyebut teori belajar behavioristik adalah teori belajar perilaku.

Karena analisis yang dilakukan pada perilaku yang tampak, dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan.

Belajar merupakan perubahan perilaku manusia yang disebabkan karena pengaruh lingkungannya. 

Behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilaku individu yang belajar dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan, dan lebih menekankan pada tingkah laku manusia.

Teori ini memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungannya

Pengalaman dan pemeliharaan akan pengalaman tersebut akan membentuk perilaku individu yang  belajar.

Selain itu, Behavioristik memandang bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antar stimulus dan respon.

Dengan demikian, belajar merupakan bentuk dari suatu perubahan yang dialami peserta didik dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.

Peserta didik dianggap telah melakukan belajar jika dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya.

Teori belajar Behavioristik sering disebut S-R (Stimulus – Respon) psikologis

artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh hadiah atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan.

Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya.

Pendidik yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkah laku peserta didik merupakan reaksi
terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar. 

Implikasi dari Teori Behavioristik dalam Kegiatan Pembelajaran

Teori ini hingga sekarang masih mendominasi praktik pembelajaran di Indonesia.

Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari Kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, dan Sekolah-Sekolah.

Pembentukan perilaku masih dilakukan dengan cara pembiasaan (drill) disertai dengan hukuman dan atau reinforcement masih sering dilakukan.

Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa 
pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah.

Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau peserta didik.

Peserta didik diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan oleh guru.

Baca Juga: Inilah, Jenis Karakteristik Peserta Didik – Wajib Dipahami Guru

Implikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari tujuan pembelajaran, materi pelajaran, karakteristik peserta didik, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.

Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, yang menuntut peserta didik untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes.

Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib

dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut.

Menurut Thorndike (Schunk, 2012) kemudian merumuskan peran yang harus dilakukan guru dalam proses pembelajaran, yaitu:

1) Membentuk kebiasaan peserta didik. Jangan berharap kebiasaan itu akan terbentuk dengan sendirinya.
2) Berhati-hati jangan sampai membentuk kebiasaan yang nantinya harus diubah, karena mengubah kebiasaan yang telah terbentuk adalah hal yang sangat sulit.
3) Jangan membentuk kebiasaan dengan cara yang sesuai dengan bagaimana kebiasaan itu akan digunakan.
4) Bentuklah kebiasaan dengan cara yang sesuai dengan bagaimana kebiasaan itu akan digunakan.

Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test yang menuntut satu jawaban benar.

Maksudnya, bila peserta didik menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa peserta didik telah menyelesaikan tugas belajarnya.

Pada era sekarang, penerapan teori behavioristik berkembang pada pembelajaran dengan powerpoint dan multimedia.

Pembelajaran dengan powerpoint, cenderung terjadi satu arah. Materi yang disampaikan dalam bentuk
powerpoint disusun secara rinci dan bagian-bagian kecil.

Sementara itu pada pembelajaran dengan multimedia, peserta didik diharapkan memiliki pemahaman yang sama dengan pengembang, materi disusun dengan perencanaan yang rinci dan ketat dengan urutan yang jelas.

Demikian paparan tentang Teori Belajar Behavioristik dan implikasinya dalam pembelajaran. Semoga Bermanfaat.

Sumber rujukan: Modul Belajar Mandiri Calon Guru, Pedagogi – Teori Belajar