Bertema.com – Prinsip Asesmen Kurikulum Merdeka Wajib Dipahami Guru
Pada kesempatan ini admin Bertema akan berbagi informasi terkait Prinsip Asesmen pada Kurikulum Merdeka.
Dengan memahami Prinsip Asesmen pada Kurikulum Merdeka, dapat membantu para guru dalam menyusun Asesmen dalam pembelajaran.
Pembelajaran paradigma baru memastikan praktik pembelajaran untuk berpusat pada peserta didik.
Dengan paradigma baru ini, pembelajaran merupakan satu siklus yang berawal dari pemetaan standar kompetensi, perencanaan proses pembelajaran,
dan pelaksanaan asesmen untuk memperbaiki pembelajaran sehingga peserta didik dapat mencapai kompetensi yang diharapkan.
Pembelajaran paradigma baru memberikan keleluasaan bagi pendidik untuk merumuskan rancangan pembelajaran dan asesmen sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik.
Pada pembelajaran paradigma baru, Profil Pelajar Pancasila berperan menjadi penuntun arah
yang memandu segala kebijakan dan pembaharuan dalam sistem pendidikan Indonesia, termasuk pembelajaran, dan asesmen.
Prinsip Asesmen pada Kurikulum Merdeka
Asesmen adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengetahui kebutuhan belajar, perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik.
Jenis asesmen sesuai fungsinya mencakup: asesmen sebagai proses pembelajaran (assessment as Learning), asesmen untuk proses pembelajaran (assessment for Learning), dan asesmen pada akhir proses pembelajaran (assessment of learning).
Selama ini pelaksanaan asesmen cenderung berfokus pada asesmen sumatif yang dijadikan acuan untuk mengisi laporan hasil belajar.
Hasil asesmen belum dimanfaatkan sebagai umpan balik untuk perbaikan pembelajaran.
Pada pembelajaran paradigma baru, pendidik diharapkan lebih berfokus pada asesmen formatif dibandingkan sumatif
dan menggunakan hasil asesmen formatif untuk perbaikan proses pembelajaran yang berkelanjutan.
Baca Juga: LENGKAP: Contoh Alur dan Tujuan Pembelajaran ATP Matematika Kelas 1-12 Kurikulum Merdeka
Prinsip Asesmen Kurikulum Merdeka
A. Prinsip Asesmen
1. Asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, memfasilitasi pembelajaran, dan menyediakan informasi yang holistik
sebagai umpan balik untuk pendidik, peserta didik, dan orang tua, agar
dapat memandu mereka dalam menentukan strategi pembelajaran selanjutnya.
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dan yang Harus dihindari
a. Asesmen merujuk pada kompetensi yang didalamnya tercakup ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Hindari: Asesmen pada ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan dilakukan secara terpisah-pisah.
b. Asesmen dilakukan terpadu dengan pembelajaran.
Hindari: Asesmen dilakukan secara terpisah dari pembelajaran.
c. Melibatkan peserta didik dalam melakukan asesmen, melalui penilaian diri (self assessment), penilaian antarteman (peer assessment), refleksi diri, dan pemberian umpan balik antarteman (peer feedback).
Hindari: Asesmen hanya dilakukan oleh pendidik.
d. Pemberian umpan balik dilakukan dengan mendeskripsikan usaha terbaik untuk menstimulasi pola pikir bertumbuh, dan memotivasi peserta didik.
Hindari: Umpan balik berupa kalimat pujian yang pendek, misal bagus, keren, pintar, pandai, cerdas, dan sebagainya.
2. Asesmen dirancang dan dilakukan sesuai dengan fungsi asesmen tersebut, dengan keleluasaan untuk menentukan teknik dan waktu pelaksanaan asesmen agar efektif mencapai tujuan pembelajaran.
a. Membangun komitmen dan menyusun perencanaan asesmen yang berfokus pada asesmen formatif.
Hindari: Berfokus pada asesmen sumatif.
b. Menggunakan beragam jenis, teknik dan instrumen penilaian formatif dan sumatif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran dan kebutuhan peserta didik.
Hindari: Tidak menggunakan instrumen penilaian atau menggunakan instrumen asesmen,
namun tidak sejalan dengan dengan karakteristik mata pelajaran, capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran dan kebutuhan peserta didik.
c. Asesmen dilakukan dengan alokasi waktu yang terencana.
Hindari: Asesmen dilakukan mendadak.
d. Mengkomunikasikan kepada peserta didik tentang jenis, teknik, dan instrumen penilaian yang akan digunakan. Harapannya, peserta didik akan berusaha mencapai kriteria yang terbaik sesuai dengan kemampuannya.
Hindari: Jenis, teknik, dan instrumen asesmen hanya dipahami oleh pendidik, sehingga peserta didik tidak memiliki gambaran kriteria terbaik yang dapat dicapai.
3. Asesmen dirancang secara adil, proporsional, valid, dan dapat dipercaya (reliable) untuk menjelaskan kemajuan belajar dan menentukan keputusan tentang langkah selanjutnya.
a. Asesmen dilakukan dengan memenuhi prinsip keadilan tanpa dipengaruhi oleh latar belakang peserta didik.
Hindari: Asesmen lebih menguntungkan peserta didik karena latar belakang tertentu.
b. Menerapkan moderasi asesmen, yaitu berkoordinasi antarpendidik untuk menyamakan persepsi kriteria, sehingga tercapai prinsip keadilan.
Hindari: Adanya unsur subjektivitas dalam asesmen.
c. Menggunakan instrumen asesmen yang mampu mengukur capaian kompetensi dengan tepat.
Hindari: Menggunakan instrumen asesmen yang tidak sesuai dengan tujuan dan aktivitas pembelajaran.
4. Laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederhana dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat tentang karakter dan kompetensi yang dicapai serta strategi tindak lanjutnya.
a. Jelas dan mudah dipahami oleh semua pihak.
Hindari: Bahasa yang kompleks dan terlalu ilmiah.
b. Ketercapaian kompetensi dituangkan dalam bentuk angka dan deskripsi.
Hindari: Penggunaan kata atau kalimat negatif.
c. Laporan kemajuan belajar hendaknya didasarkan pada bukti dan pencatatan perkembangan kemajuan belajar peserta didik.
d. Laporan kemajuan belajar digunakan sebagai dasar penerapan strategi tindak lanjut untuk pengembangan kompetensi peserta didik.
Hindari: Laporan kemajuan belajar tidak didasarkan pada bukti dan pencatatan perkembangan kemajuan belajar atau didasarkan hanya pada bukti yang tidak mencukupi.
5 Hasil asesmen digunakan oleh peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan mutu pembelajaran.
a. Satuan pendidikan memiliki strategi agar hasil asesmen digunakan sebagai refleksi oleh peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua untuk meningkatkan mutu pembelajaran.
Hindari: – Hasil asesmen hanya dijadikan data dan tidak ditindaklanjuti untuk meningkatkan mutu pembelajaran.
– Hasil asesmen dijadikan perbandingan antar peserta didik.
Demikian Prinsip Asesmen Kurikulum Merdeka Wajib Dipahami Guru, Semoga bermanfaat.

